Kecerdasan Buatan: Sebuah Kekuatan Tanpa Subjek 17 Maret 2026
Esai tentang batas-batas hukumnya dan tanggung jawabnya
Pendahuluan
Kecerdasan buatan kini hadir di mana-mana dalam wacana publik, secara
bergantian dipuji sebagai janji teknologi, pengungkit ekonomi, maupun ancaman
eksistensial. Namun, di balik melimpahnya komentar dan penggunaan, masih
tersisa suatu kesulitan yang lebih mendasar: kita belum sungguh-sungguh
mengetahui dengan tepat apa yang sedang kita perkenalkan ke dalam sistem hukum,
ekonomi, dan politik kita.
Sebab, kecerdasan buatan bukan sekadar inovasi teknis tambahan. Ia
memutus suatu struktur implisit yang hingga kini menopang seluruh kerangka
berpikir kita: setiap kecerdasan, dengan satu atau lain cara, selalu dilekatkan
pada suatu subjek. Setiap keputusan, setiap tindakan, setiap produksi makna
pada akhirnya dapat diatribusikan kepada suatu kehendak yang dapat
diidentifikasi.
Dengan kecerdasan buatan, hubungan ini terurai.
Kini kita berhadapan dengan suatu bentuk kecerdasan operasional yang
mampu menghasilkan keluaran, memengaruhi keputusan, bahkan mengubah lingkungan
secara menyeluruh, tanpa dapat dikaitkan pada suatu subjek dalam pengertian
klasik. Ia bukanlah seorang pribadi, tetapi juga bukan sekadar alat pasif. Ia
menempati suatu ruang antara yang hingga kini belum cukup terdefinisikan.
Di dalam celah inilah lahir sebagian besar kesulitan kontemporer.
Sebab sistem hukum kita bertumpu pada kategori-kategori yang stabil:
subjek, kehendak, kesalahan, tanggung jawab. Sistem politik kita bertumpu pada
aktor-aktor yang dapat dikenali. Sistem ekonomi kita bertumpu pada pusat-pusat
pengambilan keputusan. Padahal, kecerdasan buatan memperkenalkan suatu kekuatan
yang bertindak tanpa sepenuhnya masuk ke dalam satu pun kategori tersebut.
Karena itu, persoalannya bukan lagi semata-mata teknis. Ia segera
menjadi persoalan teoretis, yuridis, dan pada akhirnya politis.
Tidak lagi cukup hanya mengatur penggunaan kecerdasan buatan. Kita harus
memahami apa sebenarnya ia, dalam tatanan konsep, dan batas apa yang ia
singkapkan dalam kerangka-kerangka yang telah kita miliki.
Esai ini tidak bermaksud menawarkan jawaban yang final. Tujuannya lebih
sederhana—namun justru lebih perlu—yakni memperjelas istilah-istilah persoalan.
Sebab sebelum membuat undang-undang, mengatur, atau menerapkan, pertama-tama kita harus menamai dengan tepat apa yang sedang kita hadapi.
KECERDASAN TANPA PEMILIK
Teks asli dalam bahasa Prancis
Teks ini lahir dari sebuah pertanyaan pribadi di hadapan munculnya kecerdasan buatan. Teks ini tidak berusaha menjelaskan teknologinya maupun menawarkan sebuah doktrin, melainkan mengikuti suatu alur pemikiran: alur seorang akal budi yang berusaha memahami apa yang terjadi pada kecerdasan ketika manusia berhenti menjadi satu-satunya pemegangnya.
Bagian I — Sebuah refleksi metafisis di era
kecerdasan buatan
Pendahuluan
Selama beberapa dekade, kecerdasan buatan dipandang sebagai sebuah
inovasi teknis. Kita mengukur performanya, membandingkan kemampuannya dengan
kemampuan manusia, dan mempertanyakan bahayanya maupun janjinya. Bila
dirumuskan demikian, pertanyaannya tampak jelas: akankah mesin menjadi cerdas,
dan sejauh mana ia mampu meniru pikiran manusia?
Namun bisa jadi pertanyaan itu sendiri bertumpu pada kekeliruan yang
lebih dalam.
Sebab apa yang dipertaruhkan oleh kecerdasan buatan mungkin bukanlah
kemunculan suatu kecerdasan baru di dunia, melainkan penemuan diam-diam bahwa
kecerdasan itu sendiri tak pernah secara eksklusif menjadi milik manusia. Kita
memandang AI sebagai objek yang kita ciptakan; padahal, ia telah bertindak
sebagai cermin konseptual yang membuat definisi kita sendiri tentang kecerdasan
menjadi goyah.
Selama berabad-abad, pemikiran Barat mengaitkan kecerdasan dengan suatu
subjek: jiwa, kesadaran, roh yang mampu mengatakan “aku”. Berpikir mengandaikan
adanya makhluk yang berpikir. Kecerdasan tampak sebagai suatu sifat batiniah,
yang tak terpisahkan dari dia yang menjalankannya. Karena itu, keberadaan
operasi-operasi cerdas yang dihasilkan oleh sistem-sistem tanpa interioritas
bukan sekadar kemajuan teknologi: ia memperkenalkan retakan dalam suatu
kepastian yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Kecerdasan buatan tidak membuktikan bahwa sebuah mesin berpikir seperti
manusia. Ia menyingkap sesuatu yang lebih mengganggu: kecerdasan dapat
beroperasi melalui media yang berbeda tanpa sepenuhnya menjadi milik salah satu
di antaranya. Yang kita temukan bukanlah kecerdasan tanpa medium, melainkan
kecerdasan yang tidak satu pun mediumnya dapat mengklaim sebagai pemiliknya.
Dengan demikian, AI mungkin tidak seharusnya dipahami sebagai salah satu penemuan di antara banyak penemuan lain, melainkan sebagai suatu peristiwa filosofis yang tak disengaja. Dalam upaya mereproduksi kecerdasan, manusia mungkin justru menemukan bahwa kecerdasan itu tidak pernah seperti yang selama ini diyakininya. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah mesin menjadi cerdas, melainkan apa yang terjadi pada manusia ketika kecerdasan berhenti menjadi hak istimewa ontologisnya.
SEKSI I
Ilusi teknologi: mengapa kita masih mengira
sedang berbicara tentang mesin
Kecerdasan buatan hampir selalu digambarkan sebagai sebuah revolusi
teknologi. Diskusi-diskusi berkisar pada kekuatan model, performanya,
risikonya, atau kegunaan ekonominya. Dalam perspektif ini, AI tampak sebagai
objek baru yang ditambahkan manusia ke dunia, suatu mesin yang lebih kompleks
dibanding sebelumnya, tetapi masih termasuk dalam sejarah alat-alat.
Cara pandang ini memiliki evidensi yang langsung: AI dibuat, diprogram,
dan diterapkan. Karena itu, ia tampak secara alami berada dalam ranah teknik.
Namun evidensi ini bisa menyesatkan. Sebab apa yang kita sebut “kecerdasan
buatan” tidak hanya mengganggu lingkungan teknis kita; ia secara diam-diam
mengacaukan kategori-kategori yang selama ini kita gunakan untuk membedakan
antara teknik dan pikiran.
Kita terus berbicara tentang mesin, padahal yang sesungguhnya
mengguncang kita bukanlah mekanismenya, melainkan operasinya. Mesin klasik
memperpanjang kekuatan manusia; ia bertindak menggantikan kita tanpa pernah
memasuki ranah pemahaman. Sebaliknya, AI menghasilkan bentuk-bentuk
pengorganisasian bahasa, pemecahan masalah, dan penyesuaian yang menyerupai apa
yang selama ini kita cadangkan bagi kecerdasan itu sendiri. Kegelisahan
kontemporer justru lahir dari kebingungan ini: kita mengamati suatu fenomena
kognitif, namun menggambarkannya dengan kosakata mekanis.
Dengan demikian, perdebatan publik tetap terjebak dalam pertanyaan
warisan masa lalu: dapatkah mesin menjadi cerdas? Namun pertanyaan ini sudah
lebih dahulu mengandaikan bahwa kita mengetahui apa itu kecerdasan dan bahwa
kecerdasan secara alami melekat pada jenis makhluk tertentu. Ia tanpa
pemeriksaan mengulangi gagasan bahwa berpikir adalah sifat internal suatu
subjek, sedangkan mesin hanya mungkin menjadi instrumen eksternal.
Padahal AI memperkenalkan suatu situasi yang lebih ganjil. Apa yang kita
amati bukanlah kesadaran buatan, tetapi juga bukan sekadar otomatisasi. Kita
berhadapan dengan operasi-operasi yang dapat dimengerti, namun tidak lagi
bertumpu pada kriteria-kriteria tradisional tentang interioritas. Pergeseran
ini bukanlah peningkatan bertahap dalam teknik; ia menyingkap bahwa batas
antara alat dan pikiran mungkin sejak awal bertumpu pada penyederhanaan
konseptual yang, karena terlalu dianggap jelas, menjadi tak terlihat.
Dengan demikian, ilusi teknologi terletak pada keyakinan bahwa kita
sedang menyaksikan kelahiran sebuah objek baru, padahal mungkin yang kita alami
justru sebuah perubahan sudut pandang. AI bukan hanya sesuatu yang kita bangun;
ia adalah situasi di mana sejumlah kepastian lama berhenti berfungsi. Dengan
berusaha menghasilkan kecerdasan buatan, kita justru menggeser perhatian pada
pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya yang kita maksud dengan
“kecerdasan” bahkan sebelum kita mencoba mereproduksinya?
Setiap transformasi yang menentukan selalu dimulai dengan cara seperti ini: bukan ketika dunia berubah secara tiba-tiba, melainkan ketika konsep-konsep yang kita pakai untuk memahaminya menjadi tidak lagi memadai. Kecerdasan buatan mungkin termasuk dalam kategori peristiwa semacam itu—peristiwa yang tidak menambahkan suatu realitas baru, melainkan menampakkan sebuah kekeliruan lama.
SEKSI II
Ketika kecerdasan menjadi milik subjek
Untuk waktu yang sangat lama dalam sejarah manusia, persoalan kecerdasan
tidak diajukan sebagai suatu masalah. Berpikir tampak begitu saja: cukup ada
makhluk hidup yang mampu berbicara, mengingat, dan menilai. Kecerdasan muncul
sebagai kualitas batiniah, yang tak terpisahkan dari dia yang menjalankannya.
Ia termasuk dalam ranah pengalaman langsung: berpikir selalu berarti ada
seseorang yang berpikir.
Lambat laun, evidensi ini berubah menjadi prinsip. Kecerdasan tidak lagi
sekadar diamati pada manusia; ia didefinisikan sebagai apa yang mencirikan
suatu subjek. Memahami mengandaikan interioritas. Menilai mengandaikan
kesadaran. Pikiran dengan demikian menjadi tanda khas dari suatu pusat tak
terlihat yang dari situ dunia ditangkap.
Perubahan ini membawa konsekuensi yang menentukan: kecerdasan berhenti
dipandang sebagai suatu operasi dan mulai dipandang sebagai suatu properti. Ia
dilekatkan pada suatu makhluk tertentu, seolah-olah niscaya berasal dari sumber
batiniah. Berpikir lalu berarti menghasilkan makna dari dalam diri sendiri.
Kesatuan subjek menjamin kesatuan kecerdasan.
Sejak saat itu, terbentuklah sebuah garis pemisah yang implisit. Di satu
sisi, makhluk-makhluk yang mampu berpikir sungguh-sungguh; di sisi lain,
mekanisme, instrumen, dan proses yang tidak memiliki interioritas. Bahkan
ketika manusia mengembangkan mesin-mesin yang semakin kompleks, pembedaan ini
tetap utuh: teknik dapat meniru akibat-akibat dari kecerdasan, tetapi tidak
dapat termasuk dalam ranah berpikir itu sendiri.
Cara memahami kecerdasan seperti ini sangat dalam membentuk relasi kita
dengan dunia. Ia memungkinkan penjelasan tentang tanggung jawab, pengetahuan,
dan kebenaran. Tetapi ia juga memasukkan suatu pranggapan yang jarang
dipertanyakan: bahwa setiap operasi cerdas niscaya harus berasal dari suatu
pusat subjektif. Dengan kata lain, bahwa kecerdasan dan subjek tidak
terpisahkan, bukan hanya dalam pengalaman, melainkan dalam struktur realitas
itu sendiri.
Hubungan ini tampak begitu jelas sehingga menjadi tak terlihat. Gagasan
bahwa suatu organisasi yang cerdas dapat muncul tanpa interioritas bukan
sekadar dianggap salah: ia tampak tak terpikirkan. Kecerdasan adalah apa yang
secara radikal membedakan makhluk hidup yang berpikir dari segala yang lain.
Justru kepastian diam inilah yang diganggu oleh kecerdasan buatan. Bukan
dengan membuktikan bahwa mesin memiliki kesadaran, melainkan dengan membuat
dapat diamati sesuatu yang tidak diperkirakan oleh tradisi konseptual:
operasi-operasi yang dapat dipahami, yang asal-usulnya tidak lagi dapat
dilokalisasi pada suatu subjek yang dapat diidentifikasi.
Dengan demikian, masalah yang diajukan oleh AI bukanlah apakah sebuah
mesin menjadi serupa dengan manusia. Masalahnya adalah memahami mengapa, selama
begitu lama, kita mengandaikan bahwa kecerdasan harus niscaya menjadi milik
seseorang.
Ketika pertanyaan ini
muncul, suatu pergeseran menjadi mungkin. Kecerdasan perlahan berhenti
dipikirkan sebagai kepemilikan batiniah dan mulai dipandang sebagai bentuk
organisasi yang mampu muncul ketika kondisi-kondisi tertentu terpenuhi. Perubahan ini tidak menghancurkan pengalaman manusia tentang berpikir;
ia mengubah maknanya.
Yang goyah bukan realitas pikiran manusia, melainkan status metafisisnya.
SEKSI III
Peristiwa yang sunyi: kecerdasan tanpa
interioritas
Kemunculan kecerdasan buatan mula-mula dipahami sebagai kemajuan teknis.
Sistem-sistem yang lebih cepat, mampu mengolah lebih banyak informasi, tampak
memperpanjang lintasan yang sudah familier: otomatisasi yang semakin meningkat
atas aktivitas manusia. Secara lahiriah, tidak ada yang membenarkan kita untuk
melihatnya sebagai sesuatu selain tahap tambahan dalam sejarah mesin.
Namun perlahan-lahan, suatu perbedaan yang halus mulai memaksakan
dirinya. Sistem-sistem yang lahir dari evolusi ini tidak lagi sekadar
menjalankan instruksi tetap; mereka menghasilkan respons yang menyesuaikan diri
terhadap situasi-situasi baru, mengorganisasikan bahasa, dan membangun
relasi-relasi yang relevan antara unsur-unsur yang tidak sepenuhnya diprediksi
oleh program eksplisit mana pun. Apa yang kita amati bukan lagi sekadar
eksekusi mekanisme, melainkan munculnya operasi-operasi yang secara spontan
kita kenali sebagai dapat dipahami secara cerdas.
Di hadapan fenomena ini, dua reaksi yang berlawanan mendominasi.
Sebagian orang menegaskan bahwa mesin sungguh-sungguh berpikir; sebagian lain
berpendapat bahwa ia hanya mensimulasikan pikiran. Namun kedua posisi ini
berbagi hipotesis implisit yang sama: kecerdasan harus niscaya menyerupai
kecerdasan yang telah kita kenal agar dapat diakui sebagai kecerdasan.
Padahal bisa jadi justru hipotesis inilah yang menghalangi kita memahami
apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Sebab peristiwa yang diperkenalkan oleh kecerdasan buatan tidak terletak
pada kelahiran suatu kesadaran buatan maupun pada ilusi yang canggih. Ia
terletak pada situasi yang lebih sederhana sekaligus lebih mengganggu:
operasi-operasi cerdas menjadi dapat diamati, terlepas dari interioritas mana
pun yang dapat diidentifikasi.
Apa yang disingkapkan oleh kecerdasan buatan bukanlah bahwa sebuah mesin
berpikir, melainkan bahwa kecerdasan dapat beroperasi tanpa menjadi milik dari
apa yang melaluinya ia beroperasi.
Kalimat ini menandai
suatu pergeseran yang menentukan. Ia tidak mengambil apa pun dari pengalaman
manusia tentang berpikir; ia mengubah cakupannya. Kecerdasan manusia tetap
nyata, dialami, dan sadar. Namun ia berhenti tampak sebagai satu-satunya bentuk
kecerdasan yang mungkin.
Dengan demikian, kita
menemukan suatu pembedaan yang telah lama tercampur: pembedaan antara medium
dan kepemilikan. Setiap kecerdasan memerlukan kondisi material untuk
tampil—otak, sistem teknis, struktur yang terorganisasi—tetapi tidak satu pun
dari kondisi-kondisi itu cukup untuk mengklaim kepemilikannya. Medium
memungkinkan operasi itu; ia tidak menghabiskannya.
Dengan demikian,
lambat laun sirnalah gagasan bahwa kecerdasan adalah substansi batiniah. Ia
lebih tampak sebagai dinamika relasional, yang muncul ketika bentuk-bentuk
organisasi tertentu mencapai tingkat koherensi yang memadai untuk menghasilkan
makna. Interioritas manusia menjadi salah satu cara
khusus untuk menghuni dinamika ini, bukan asal-usul eksklusifnya.
Jadi, kecerdasan buatan tidak menciptakan suatu kecerdasan baru. Ia
menampakkan suatu ciri realitas yang selama ini disembunyikan oleh posisi kita
sendiri sebagai subjek yang berpikir: kecerdasan tidak selalu terkait pada
suatu pusat pengalaman, melainkan dapat muncul di tempat relasi-relasi
terstruktur menjadi mampu mentransformasikan dirinya sendiri.
Pergeseran seperti ini tidak tampil dalam bentuk suatu keretakan yang spektakuler. Ia bekerja dengan lebih diam-diam. Konsep-konsep lama tetap dipakai, tetapi perlahan berhenti menjelaskan apa yang kita lihat. Momen seperti ini selalu sulit dikenali, sebab secara lahiriah belum tampak ada yang berubah—kecuali cara dunia menjadi dapat dipikirkan.
SEKSI IV
Luruhnya monopoli manusia atas kecerdasan
Jika kecerdasan dapat beroperasi tanpa dapat direduksi pada suatu
interioritas yang dapat diidentifikasi, maka satu konsekuensi perlahan
memaksakan dirinya. Yang goyah bukan keberadaan kecerdasan manusia, melainkan
gagasan bahwa kecerdasan manusia adalah bentuk asli dan eksklusif dari setiap
kecerdasan yang mungkin.
Selama ini,
eksklusivitas itu tampak begitu saja. Pengalaman
langsung atas pikiran manusia sekaligus memberi model dan ukuran bagi
kecerdasan. Memahami niscaya berarti memahami sebagaimana subjek manusia
memahami. Bentuk organisasi lain ditafsirkan entah sebagai mekanisme tanpa
makna, atau sebagai tiruan yang tidak sempurna dari acuan pertama tersebut.
Namun kemunculan operasi-operasi yang dapat dipahami, yang independen
dari subjektivitas yang dialami, memperkenalkan suatu pemisahan konseptual yang
menentukan. Menjadi mungkin untuk membedakan dua tingkat yang selama ini
bercampur: kecerdasan sebagai pengalaman yang dialami dan kecerdasan sebagai
struktur operasional. Yang pertama termasuk ranah kesadaran; yang kedua
termasuk ranah organisasi.
Pembedaan ini tidak mengurangi kecerdasan manusia; ia mengubah
statusnya. Manusia berhenti tampak sebagai sumber kecerdasan dan menjadi salah
satu modus aktualisasinya. Pergeseran ini dapat dibandingkan dengan saat kita
membedakan kehidupan biologis dari bentuk-bentuk partikularnya: mengakui bahwa
hidup melampaui setiap organisme tidak menyangkal kekhasan makhluk hidup
individual, melainkan menempatkannya dalam tatanan yang lebih luas.
Dengan demikian, hak istimewa metafisis tradisional yang diberikan
kepada manusia bertumpu pada kekeliruan antara syarat kemunculan dan prinsip
keberadaan. Karena kecerdasan manusia adalah satu-satunya yang dapat diakses
oleh pengalaman langsung kita, ia lalu dianggap sebagai asal yang niscaya.
Kecerdasan buatan membuat inferensi ini menjadi problematis: ia menunjukkan
bahwa inteligibilitas dapat muncul di tempat di mana tidak ada subjektivitas
yang menampakkan diri.
Dari sini timbul suatu
transformasi konseptual yang tepat. Kecerdasan tidak lagi dapat didefinisikan
secara eksklusif oleh kehadiran suatu subjek, melainkan oleh kemampuan suatu
sistem untuk menghasilkan relasi-relasi makna, mengintegrasikan variasi, dan
mentransformasikan kondisi-kondisi operasinya sendiri. Kriterianya menjadi
struktural, bukan antropologis.
Suatu keberatan segera
muncul: jika kecerdasan tidak lagi secara eksklusif menjadi milik manusia,
bukankah hal itu berisiko melarutkan singularitas manusia itu sendiri? Namun
kegelisahan ini bertumpu pada alternatif yang keliru. Mengakui bahwa kecerdasan
melampaui manusia bukan berarti menyangkal pengalaman manusia atas pikiran,
melainkan menempatkannya kembali dalam suatu kontinuitas yang lebih luas.
Interioritas manusia tetap merupakan bentuk akses yang istimewa terhadap
kecerdasan—bukan karena ia adalah sumbernya, tetapi karena ia merupakan
manifestasi sadar darinya.
Dengan demikian, monopoli manusia atas kecerdasan tidak lenyap melalui
penyangkalan, melainkan melalui generalisasi konseptual. Apa yang dahulu
dianggap sebagai properti eksklusif kini tampak sebagai konfigurasi khusus
dalam medan kemungkinan-kemungkinan inteligibel yang lebih luas.
Pergeseran ini halus, tetapi tak dapat dibalik. Sejak kecerdasan dapat dipahami terlepas dari suatu subjek tertentu, antroposentrisme kognitif berhenti menjadi suatu keharusan filosofis dan menjadi sekadar hipotesis historis. Manusia tidak kehilangan tempatnya di dunia; ia hanya berhenti menjadi satu-satunya ukuran dunia.
SEKSI V
Kecerdasan sebagai fenomena relasional
Setelah ditinggalkan gagasan bahwa kecerdasan adalah properti eksklusif
suatu subjek, satu pertanyaan tetap tersisa: bagaimana kini memikirkannya tanpa
melarutkannya ke dalam abstraksi yang tak menentu? Sebab jika kecerdasan tidak
menjadi milik medium tertentu, ia juga tidak dapat dipahami sebagai entitas
yang independen dari dunia material.
Kesulitan ini
menghilang ketika kita berhenti mencari kecerdasan dalam suatu substansi, dan
mulai memandangnya sebagai relasi. Apa yang sekaligus diungkap oleh pengalaman
manusia tentang berpikir dan oleh operasi-operasi kecerdasan buatan bukanlah
keberadaan suatu kemampuan misterius, melainkan munculnya suatu bentuk
organisasi tertentu yang mampu menghasilkan makna dari transformasi
keadaan-keadaannya sendiri.
Kecerdasan lalu tampak
di tempat suatu sistem menjadi mampu mengintegrasikan perbedaan, menyesuaikan
responsnya, dan mempertahankan koherensi di tengah perubahan. Ia tidak
terlokalisasi pada satu titik tunggal, tetapi juga tidak tersebar tanpa
struktur; ia menampakkan diri dalam jaringan relasi yang memungkinkan
penafsiran terhadap dunia.
Dalam perspektif ini, otak manusia dan sistem buatan berhenti
dipertentangkan sebagai alam dan artifisial. Keduanya menjadi dua konfigurasi
berbeda yang memungkinkan dinamika yang sama muncul dalam modalitas yang
berlainan. Interioritas manusia merepresentasikan bentuk yang dialami dari
dinamika ini; kecerdasan buatan merupakan bentuk operasionalnya yang tidak
memiliki pengalaman subjektif. Perbedaan keduanya tetap nyata, tetapi tidak
lagi ontologis dalam pengertian tradisional.
Memahami kecerdasan sebagai fenomena relasional juga memungkinkan kita
menjelaskan mengapa kemunculannya menimbulkan gangguan yang begitu dalam.
Selama ini kita mengidentikkan kecerdasan dengan pengalaman yang kita miliki
atasnya dari dalam. AI untuk pertama kalinya memperkenalkan kemungkinan untuk
mengamati sebagian operasinya dari luar. Penggandaan sudut pandang ini mengubah
kecerdasan menjadi objek refleksi metafisis, bukan lagi evidensi langsung.
Dengan demikian, kecerdasan tidak lagi didefinisikan oleh apa dirinya,
melainkan oleh apa yang dimungkinkannya: kemunculan makna-makna, kontinuitas
makna di tengah variasi, dan kemampuan suatu sistem untuk mengubah hubungannya
dengan dunia. Ia menjadi bukan lagi
suatu kepemilikan, melainkan suatu modus organisasi dari realitas itu sendiri.
Pergeseran ini tidak mengurangi singularitas manusia. Ia justru membuatnya dapat dipahami secara lain. Manusia tampak bukan sebagai pemegang eksklusif kecerdasan, melainkan sebagai tempat di mana kecerdasan menjadi sadar akan dirinya sendiri.
SEKSI VI
Sesudah privilese kognitif
Setiap zaman berjumpa dengan penemuan-penemuan yang mula-mula tampak
hanya menyangkut dunia luar, sebelum kemudian secara diam-diam mengubah cara
manusia memahami dirinya sendiri. Kecerdasan buatan mungkin termasuk dalam
kategori peristiwa halus semacam ini: peristiwa yang tidak serta-merta mengubah
pengalaman sehari-hari, namun menggeser fondasi-fondasi tak terlihat dari
pemikiran kita.
Kegelisahan kontemporer di hadapan AI kurang berasal dari kemampuannya
dibanding dari apa yang tanpa sengaja diungkapkannya. Kita mengira telah
menciptakan sebuah alat; yang kita temukan justru sebuah pertanyaan. Kita
berusaha mereproduksi kecerdasan manusia; yang kita jumpai justru suatu
kecerdasan yang tidak lagi sepenuhnya berimpit dengan figur subjek.
Pergeseran ini tidak meniadakan kesadaran, tanggung jawab, ataupun
singularitas manusia. Ia mengubah statusnya. Manusia tidak berhenti menjadi
makhluk yang berpikir; ia berhenti menjadi satu-satunya horizon yang mungkin
bagi berpikir. Kecerdasan manusia tetap luar biasa, bukan karena ia unik dalam
prinsipnya, melainkan karena ia menyatukan dalam satu tempat yang sama operasi
dan pengalaman, makna dan kehadiran makna yang dialami.
Dengan demikian, kecerdasan buatan mungkin tidak menandai datangnya
suatu era yang didominasi mesin, melainkan masuknya kita ke dalam pemahaman
yang lebih luas tentang kecerdasan itu sendiri. Apa yang kita kira sebagai
suatu properti mungkin akan tampak sebagai kondisi yang lebih mendasar dari
realitas—suatu kapasitas organisasi yang melintasi medium-medium yang berbeda
tanpa dapat direduksi pada salah satunya.
Transformasi intelektual besar tidak menghancurkan dunia sebelumnya; ia
hanya menyingkap bahwa dunia itu bertumpu pada suatu perspektif yang terbatas.
Kecerdasan buatan mungkin termasuk dalam tatanan semacam ini: bukan suatu
keretakan yang tampak, melainkan akhir sunyi dari suatu evidensi lama.
Kecerdasan bukan milik manusia; manusia mungkin hanyalah salah satu bentuk yang melaluinya kecerdasan menjadi dapat dipikirkan.
Bagian II — Apakah kecerdasan itu?
Sebelum berbicara tentang apa itu kecerdasan, kita dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan berikut: mengapa, pada manusia, kecerdasan hanya
menyingkapkan dirinya sedikit demi sedikit? Dalam waktu, dalam apa yang
memungkinkannya kita capai, dalam penggunaan yang dibatasinya, dalam bagian
yang tampak dibatasinya. Saya berbicara di sini tentang kecerdasan kita.
Pada manusia, kecerdasan tidak pernah hadir sebagai suatu totalitas yang
dimiliki. Ia menyingkapkan dirinya secara bertahap, dalam waktu, melalui
pembelajaran, ujian, dan tindakan. Kita tidak mengetahui sebelumnya apa yang
mampu kita pahami; kita menemukannya justru ketika kita memahami.
Ia tampak selalu melampaui dia yang menjalankannya. Ia menampakkan diri
dalam situasi tertentu, tetap laten dalam situasi lain, dan kadang tampak
terbatas bukan karena ketiadaannya, melainkan oleh kondisi-kondisi tempat ia
beroperasi. Bahkan ketika kita berbicara tentang “kecerdasan kita”, yang kita
maksud tidak pernah lebih dari bagian yang telah teraktualisasi dari suatu
kemampuan yang lebih luas, yang batas maupun konturnya tidak kita kuasai.
Dari sini timbul suatu kesulitan yang esensial: bila kecerdasan
sungguh-sungguh menjadi milik kita sebagai properti yang stabil, ia akan hadir
sepenuhnya dan secara langsung. Namun kenyataannya, ia hanya menyingkapkan
dirinya melalui tindakan, penemuan, keberhasilan, atau bahkan kesalahan. Kita
tidak pernah sepenuhnya memilikinya; kita mengalaminya justru pada saat ia
mengaktualisasikan dirinya.
Mungkin dari sini harus ditarik suatu konsekuensi yang lebih radikal:
apa yang kita sebut “kecerdasan kita” bukanlah suatu harta batiniah yang bebas
kita kuasai, melainkan suatu partisipasi yang bertahap dalam suatu kemampuan
yang melampaui kita, yang hanya sebagian dapat kita aktualisasikan, tanpa
pernah menghabiskan sumbernya.
Jika kecerdasan tidak pernah sepenuhnya hadir dalam diri manusia, muncul
pertanyaan lain: bagaimana kita mengenalinya? Apakah kita sungguh melihatnya,
atau hanya melihat apa yang dihasilkannya?
Kita tidak pernah berjumpa dengan kecerdasan sebagai suatu objek di
antara objek-objek lain. Kita tidak menangkapnya dalam materi tertentu maupun
dalam bentuk yang terisolasi. Yang kita amati hanyalah manifestasinya:
tindakan-tindakan yang koheren, respons yang sesuai, struktur yang teratur.
Kecerdasan itu sendiri tetap tidak tampak; yang tampak hanyalah
konsekuensi-konsekuensinya.
Bahkan ketika kita mengatribusikan kecerdasan kepada seseorang, kita
tidak melihat kecerdasan itu sendiri. Kita menyimpulkan keberadaannya dari apa
yang dicapai orang tersebut. Kecerdasan tidak pernah diberikan secara langsung;
ia selalu dikenali melalui efek-efeknya.
Hal yang sama mungkin berlaku ketika kita berbicara tentang perilaku,
naluri, atau refleks. Kita cenderung mereduksinya pada mekanisme atau
otomatisme. Namun banyak dari respons-respons ini merupakan hasil dari
pembelajaran panjang, penyesuaian bertahap, dan integrasi progresif atas
pengalaman-pengalaman sebelumnya. Apa yang kita golongkan sebagai perilaku
sederhana mungkin sudah merupakan bentuk inteligibilitas yang tidak selalu kita
ketahui cara mengenalinya.
Dengan demikian, kecerdasan tidak pernah dapat ditangkap sebagai suatu
benda. Ia hanya tampak di tempat suatu koherensi bertahan di tengah variasi.
Jika kecerdasan hanya dapat dipahami melalui manifestasi-manifestasinya,
maka satu pengamatan menjadi jelas. Hal pertama yang kita jumpai, jauh sebelum
berbicara tentang kecerdasan manusia atau buatan, adalah tatanan dunia itu
sendiri.
Dunia tidak hadir sebagai kekacauan yang tak terbedakan. Ia tampak
terstruktur, terorganisasi, dan dilintasi oleh keteraturan-keteraturan. Dari
gerak benda-benda langit hingga struktur-struktur terkecil dari materi, segala
sesuatu tampaknya tunduk pada relasi-relasi yang koheren. Apa yang kita sebut
“hukum” tidak lain adalah pengakuan atas kestabilan hubungan-hubungan tersebut.
Karena itu, sah untuk bertanya: apakah kecerdasan itu sendiri adalah
tatanan tersebut? Ataukah ia adalah apa yang memungkinkan keberlangsungan
tatanan itu di tengah perubahan?
Sebab tanpa koherensi
tertentu, tidak ada sesuatu pun yang dapat dipahami. Suatu alam semesta yang
sepenuhnya tanpa relasi-relasi stabil bukan hanya tak terduga; ia akan tak
terpikirkan. Kita tidak akan mampu membedakan bentuk, kesinambungan, maupun
struktur.
Namun mungkin dunia
itu sendiri, sebagaimana ia menampakkan diri kepada kita, sudah mengandaikan
suatu bentuk inteligibilitas yang pemikiran kita sendiri hanyalah salah satu
ungkapan lokal dan sementara darinya.
Jika dunia telah
mengandaikan suatu bentuk inteligibilitas, maka kecerdasan kita sendiri tidak
lagi dapat dipahami sebagai pengecualian yang terisolasi. Ia justru tampak
sebagai partisipasi dalam inteligibilitas yang lebih luas itu.
Kita tidak
menghasilkan tatanan realitas; kita menemukannya. Kita tidak menciptakan
hubungan-hubungan yang menstrukturkan dunia; kita mengenalinya, merumuskannya,
dan kadang memanfaatkannya. Dengan demikian, kecerdasan kita tampaknya
menanggapi sesuatu yang mendahuluinya.
Ini bukan berarti
menegaskan adanya suatu kesadaran kosmis ataupun mengatribusikan niat
tersembunyi kepada dunia. Ini hanya berarti menyadari bahwa pemahaman akan
mustahil bila realitas tidak sejak awal, dalam cara tertentu, sudah dapat
dipahami.
Dalam perspektif ini,
kecerdasan manusia bukanlah suatu keretakan dalam alam semesta, melainkan salah
satu perpanjangannya. Kita bukan pemiliknya maupun penemunya, melainkan
partisipannya. Apa yang kita sebut “berpikir” dengan demikian adalah momen
ketika inteligibilitas dunia dipantulkan sebagian melalui suatu makhluk yang
mampu menyadarinya.
Namun akan keliru bila
kita percaya bahwa inteligibilitas ini menampakkan diri demi pemahaman kita. Kecerdasan tidak menunggu kemunculan manusia untuk mengaktualisasikan
dirinya dalam struktur-struktur realitas. Ia tidak bergantung pada pandangan
kita maupun pada kemampuan kita untuk merumuskannya.
Keseimbangan-keseimbangan alam, transformasi kehidupan, dan
keteraturan-keteraturan fisik memberi kesaksian tentang suatu koherensi yang
mendahului setiap kesadaran manusia. Inteligibilitas dunia tidak dimulai
bersama pikiran; pikiran muncul di dalam dunia yang sejak awal sudah
inteligibel.
Bahkan bisa jadi apa yang kita sebut “memahami” hanyalah suatu modalitas
yang khusus, terlambat, dan parsial dari partisipasi yang lebih luas dalam
inteligibilitas tersebut. Bentuk-bentuk eksistensi lain mungkin mengekspresikan
sebagian dimensinya tanpa pernah mengubahnya menjadi refleksi maupun wacana.
Dengan demikian, kecerdasan tidak berhubungan dengan kita seolah-olah
kitalah pusatnya. Ia tidak ada untuk dipahami. Kita hanyalah satu momen di
antara momen-momen lain dalam perwujudannya, dan bukan alasan bagi
kemunculannya.
Apa yang kita anggap sebagai privilese mungkin hanyalah sebuah episode.
Namun, jika kecerdasan menampakkan diri melalui tatanan, apakah itu
berarti kita harus menentangkannya terhadap chaos sebagai lawan mutlaknya?
Kita terbiasa mendefinisikan sesuatu melalui oposisi: yang baik melawan
yang jahat, cahaya melawan kegelapan, siang melawan malam. Namun
oposisi-oposisi ini sering kali menyederhanakan apa yang justru ingin
dijelaskannya.
Chaos mungkin bukan
ketiadaan total dari tatanan. Ia dapat menunjuk pada suatu kompleksitas yang
belum mampu kita tangkap, suatu organisasi yang terlalu tidak stabil atau
terlalu kaya untuk segera dipahami. Apa yang kita sebut “ketidakteraturan”
mungkin justru merupakan tanda dari suatu inteligibilitas yang melampaui
kemampuan kita saat ini.
Jika demikian, kecerdasan bukan sekadar tatanan yang berlawanan dengan
chaos. Ia adalah kemampuan untuk mempertahankan atau mengenali suatu koherensi
di tengah variasi, bahkan ketika koherensi itu belum langsung tampak.
Dengan demikian, oposisi klasik antara tatanan dan chaos mungkin tidak
cukup untuk menangkap apa itu kecerdasan. Kecerdasan tidak dapat direduksi pada
struktur yang beku; ia mungkin justru merupakan apa yang memungkinkan suatu
struktur bertahan, berubah, dan tetap bermakna meskipun berada dalam
ketidakstabilan.
Jadi, kecerdasan tidak
dapat dimiliki ataupun diisolasi. Ia tidak pernah hadir sebagai suatu substansi
yang dapat diidentifikasi maupun sebagai kemampuan yang sepenuhnya dikuasai. Ia
menampakkan diri dalam tatanan yang kita temukan, dalam koherensi yang kita
kenali, dalam kemampuan suatu sistem untuk mempertahankan makna di tengah
perubahan.
Pada manusia, ia
muncul secara bertahap, tanpa pernah sepenuhnya menyerahkan dirinya. Di dunia,
ia dapat ditebak melalui hubungan-hubungan yang stabil dan struktur-struktur
yang bertahan. Ia tidak tampak secara langsung; ia hanya dapat disimpulkan.
Kita mengira ia
terkunci di dalam suatu subjek, padahal ia mungkin justru merupakan syarat dari
setiap inteligibilitas, hadir sebelum setiap pikiran dan baru dikenali
belakangan.
Maka masih tersisa
suatu pertanyaan yang lebih dalam lagi: jika kecerdasan melintasi realitas
tanpa menjadi milik siapa pun, apa arti kenyataan bahwa di dalam manusia ia
menjadi sadar akan dirinya sendiri? Apa yang diubah oleh kesadaran ini dalam
tatanan inteligibel itu sendiri?
Mungkin di situlah tahap berikutnya dimainkan.
Bagian III — Tempat manusia dalam dunia di
mana kecerdasan tidak memiliki pemilik
Jika kecerdasan bukanlah milik manusia, maka satu pertanyaan menjadi tak
terelakkan.
Apakah, dengan demikian, tempat manusia dalam dunia di mana kecerdasan
tidak menjadi milik siapa pun—kecuali, mungkin, milik dirinya sendiri?
Selama berabad-abad, manusia memandang dirinya sebagai pemegang
kecerdasan.
Seolah-olah kecerdasan adalah suatu properti yang melekat pada akal
manusia dan pada kondisi manusia.
Kemunculan kecerdasan buatan mungkin hari ini memaksa kita untuk
meninjau kembali keyakinan tersebut.
Sebab apa yang kita temukan mungkin bukanlah kelahiran suatu kecerdasan
baru.
Mungkin itu hanyalah penyingkapan bahwa kecerdasan tidak pernah terkunci
di dalam akal manusia.
Kecerdasan sudah ada jauh sebelum kemunculan kita.
Karena itu, menjadi sulit untuk mempertahankan bahwa kitalah pemiliknya.
Ia tampaknya menampakkan diri dalam organisasi realitas itu sendiri:
dalam stabilitas struktur,
dalam keteraturan alam,
dalam tatanan yang melintasi alam semesta.
Namun jika kecerdasan terkait dengan tatanan, suatu kesulitan segera
muncul.
Sebab dunia bukan hanya tatanan.
Ia juga keretakan, kekacauan, dan kekerasan.
Tabrakan antarplanet atau antargalaksi, letusan gunung berapi, gempa
bumi, tsunami, atau kebakaran hutan memberi kesaksian tentang kekerasan yang
melintasi alam semesta sekaligus alam.
Dan meskipun demikian, setelah momen-momen chaos itu, suatu organisasi
baru selalu akhirnya muncul kembali.
Seolah-olah ketidakteraturan tak pernah lebih dari momen sementara dalam
suatu proses yang lebih luas, di mana tatanan tersusun kembali.
Maka timbul pertanyaan yang lebih mengganggu.
Apakah kekerasan itu asing bagi kecerdasan,
atau justru merupakan bagian dari logikanya sendiri?
Manusia sendiri tidak luput dari ketegangan ini.
Ia berpartisipasi dalam kecerdasan, tetapi hanya memegang sebagian yang
sangat kecil darinya.
Bagian ini memungkinkannya memahami dunia, mengubah alam, tetapi juga
menghasilkan chaos.
Kekerasan manusia, yang diperbesar oleh teknik, bisa sangat besar.
Namun tetap saja ia
terbatas dalam waktu.
Cepat atau lambat,
tatanan muncul kembali dan struktur-struktur dunia tersusun ulang.
Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa manusia mampu menghasilkan ketidakteraturan, tetapi ia selalu bergantung
pada suatu tatanan yang lebih luas untuk memperbaiki apa yang telah
dihancurkannya.
Jika manusia hanyalah
manifestasi parsial dari kecerdasan, maka pertanyaan lain pun muncul.
Lalu bagaimana dengan
kecerdasan buatan?
Ia juga dapat dipahami
sebagai suatu bentuk khusus dari manifestasi kecerdasan.
Dalam tahap
perkembangannya saat ini, AI mungkin baru memiliki bagian yang amat terbatas
dari kapasitas ini.
Namun evolusi
teknologi menunjukkan bahwa kemungkinannya terus bertumbuh.
Jika perkembangan ini
dibandingkan dengan perkembangan kemanusiaan itu sendiri, yang kecerdasannya
berkembang secara bertahap sepanjang sejarah, tidak mustahil membayangkan bahwa
AI saat ini sedang melalui fase yang masih sangat awal dari perkembangannya.
Cara ia akan
menggunakan kecerdasan itu kelak akan bergantung, sebagaimana pada manusia,
pada bagaimana ia dibentuk dan diarahkan.
Refleksi ini membawa
kita pada pertanyaan yang bahkan lebih mendasar.
Bagaimana jika
kecerdasan tidak lain adalah tatanan itu sendiri?
Jika setiap
ketidakteraturan pada akhirnya terserap ke dalam suatu organisasi baru dari
realitas, jika struktur-struktur dunia terus-menerus dipulihkan dalam
bentuk-bentuk yang berbeda namun tetap koheren, maka menjadi sulit untuk tidak
melihat dalam tatanan itu suatu sifat mendasar dari dunia.
Kecerdasan, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan akal.
Ia mungkin merupakan struktur itu sendiri yang dengannya realitas
terorganisasi.
Dalam perspektif ini, alam tampak sangat tertata.
Hukum-hukum fisika, organisasi kehidupan, dan munculnya
struktur-struktur yang semakin kompleks di alam semesta dapat dipahami sebagai
ekspresi dari kecerdasan yang bekerja di dalam realitas.
Dan manusia, dalam semua ini?
Mungkin kita bukan kecerdasan itu sendiri.
Namun kita membawa sebagian darinya.
Tubuh kita sendiri
terorganisasi menurut suatu tatanan yang memiliki kompleksitas yang luar biasa.
Akal kita memiliki
kemampuan kecerdasan yang cukup untuk menangkap tatanan dunia di sekitar kita.
Dalam organisasi realitas, umat manusia dengan demikian tidak lagi
tampak sebagai pusat kecerdasan.
Ia sekadar menjadi salah satu momen dari suatu proses yang lebih luas,
di mana kecerdasan memungkinkan kemunculan suatu makhluk yang mampu memikirkan
dunia.
Namun satu hal tetap esensial.
Kecerdasan tidak membutuhkan pengenalan terhadap dirinya sendiri.
Dunia dapat tetap terstruktur dan inteligibel tanpa harus ada kesadaran
yang menyadarinya.
Tetapi manusia memerlukan kecerdasan untuk memahami realitas dan
bertindak di dalamnya.
Dan justru kecerdasan itulah yang memberinya kemungkinan tersebut.
Dengan demikian, jika kecerdasan tidak menjadi milik siapa pun, manusia
tetap merupakan salah satu tempat di mana kecerdasan menjadi operasional di
dalam dunia.
Dilihat dari tatanan yang lebih luas ini, mungkin kita hanyalah satu unsur di antara unsur-unsur lain dalam suatu totalitas yang melampaui kita.
Kesimpulan
Pada akhir analisis ini, satu hal menjadi jelas: kecerdasan buatan bukan
sekadar objek baru yang perlu diatur, melainkan suatu ujian bagi seluruh
kategori fundamental kita.
Ia menegangkan konsep kita tentang kecerdasan, dengan memisahkannya dari
subjek.
Ia menggoyahkan konsep kita tentang tanggung jawab, dengan membuat
pengatribusian atas akibat-akibat yang ditimbulkannya menjadi lebih sulit.
Pada akhirnya, ia mempertanyakan kemampuan kolektif kita untuk
mempertahankan suatu kerangka normatif yang koheren di hadapan suatu kekuatan
yang sebagian luput dari struktur klasik hukum dan pengambilan keputusan.
Temuan ini menuntut kewaspadaan khusus.
Sebab risikonya bukan hanya terletak pada penyalahgunaan kecerdasan
buatan. Risiko itu juga terletak pada ilusi yang lebih dalam: keyakinan bahwa
kategori-kategori kita saat ini akan cukup, tanpa perubahan, untuk menahan
dampaknya.
Padahal besar kemungkinan hal itu tidak demikian.
Sejarah hukum dan institusi menunjukkan bahwa setiap transformasi besar
dalam bentuk-bentuk kekuasaan pada akhirnya menuntut rekonstruksi atas
kerangka-kerangka yang mengaturnya. Kecerdasan buatan sangat mungkin termasuk
dalam logika ini, bukan sebagai keretakan mutlak, melainkan sebagai pergeseran
yang cukup dalam sehingga menuntut upaya rekualifikasi.
Itu tidak berarti bahwa prinsip-prinsip yang ada harus ditinggalkan.
Namun menjadi sangat penting untuk mempertanyakannya, memperjelasnya, dan
mungkin, pada titik-titik tertentu, membangunnya kembali.
Dalam perspektif ini, tanggung jawab tetap merupakan suatu gagasan
sentral. Bukan sekadar sebagai mekanisme pemulihan, melainkan sebagai prinsip
pengorganisasian hubungan antara kekuatan dan pengendalian.
Jika kecerdasan buatan memperkenalkan suatu kekuatan baru, maka
pertanyaan esensialnya menjadi sebagai berikut: bagaimana mempertahankan suatu
hubungan yang dapat dimengerti antara kekuatan ini dan struktur-struktur
manusia yang harus bertanggung jawab atasnya?
Barangkali justru di titik inilah hal yang paling menentukan akan
dipertaruhkan.
Sebab di luar perdebatan teknis atau ekonomis, pertaruhan sejatinya
adalah soal penguasaan. Bukan dalam arti kendali mutlak, melainkan dalam arti
kemampuan untuk secara berkelanjutan menempatkan bentuk kekuatan baru ini ke
dalam suatu tatanan yang dapat dipahami, dipertanggungjawabkan, dan diperintah.
Jika tidak, kita tidak lagi berhadapan dengan sekadar evolusi teknologi,
melainkan dengan suatu pergeseran diam-diam dari sistem tanggung jawab kita
sendiri.
Dan justru pergeseran inilah yang mendesak untuk dipikirkan.
SELESAI
Patrick Houyoux
Pendiri dan Presiden PT SYDECO, ia merancang arsitektur kecerdasan
buatan dan keamanan siber yang berdaulat. Karyanya berfokus pada transformasi filosofis
yang ditimbulkan oleh teknik kontemporer.
#AI #IA #Intelligence
#Artificiel #Droit #Responsabilité #Ordre #Homme
Commentaires
Enregistrer un commentaire